Epilog Untuk Masa Depan

 

Mari kita berdamai dengan masa lalu, tak perlu takut sehingga harus menghindarinya terus yang justru akan semakin membuat mata kita buta, hati kita sakit, jiwa kita hampa.
Mari kita berdamai dengan masa lalu, karena tidak mungkin kita akan bisa kembali ke belakang dan mengubah sejarah, itu curang! ( seperti ungkapan James T. Kirk dalam film Star Trek ). Kita bisa berlari mundur tapi tidak mampu mengulang pengalaman, kita bisa memutar jarum jam tapi tak pernah bisa mengulang satu detik pun waktu. Apakah kita akan memaksa orang yang sudah dikubur kembali ke dunia? Apakah kita akan memaksa bayi yang lahir kembali masuk ke rahim ibunya? Apakah kita akan memaksa gigi yang sudah ngilu harus terus memakan es batu setiap hari? Apakah kita akan memaksa Tuhan mengembalikan kepahitan yang dulu menjadi lebih manis? Atau bagi yang tidak percaya Tuhan, apakah kita mampu mengembalikan molekul- molekul kebahagiaan dimasa jaya tak pernah berlalu? Dan tahukah, jawaban dari semua itu adalah…TIDAK MUNGKIN!

Mari kita melihat masa lalu sebagai sketsa film kehidupan yang hanya pantas untuk ditonton serta dikomentari seperlunya, namun bukan berarti kita akan masuk kedalam film itu dan mengulangi adegan scene demi scene yang telah kita ketahui ada kekacauan didalamnya. Cukup jadi penonton, menyaksikan drama kehidupan pribadi yang akan menjadi catatan hitam sebagai alat rem dimasa depan. Masa lalu tidak bisa diubah, tetapi kita masih bisa membuat sejarah baru yang lebih baik lagi. Masa lalu yang buruk, pahit, suram, buram, hitam atau bahkan sangat mengerikan apabila kita ingat seharusnyalah menjadikan kita semakin mengenal diri sendiri secara utuh dan dalam. Bukan sebagai bagian dari yang hitam itu, tetapi sebagai edisi examination dari proses pendewasaan dan proses ‘pencelupan’ oleh Yang Maha Kuasa. Katakanlah kita pernah berbuat jahat, pernah mencuri, pernah berzina, pernah membunuh, pernah memfitnah orang sampai berdarah-darah dan sederet kejahatan yang lebih buruk dari itu dalam satu episode, dan di episode yang lain hati kita tidak tenang karenanya. Hati kita seperti menanggung beban moral yang berat, beban kesalahan yang tanpa sadar telah merubah pola pikir kita menjadi sibuk dengan kegelapan sendiri dan menjadi hakim atas rasa bersalah itu. Lalu tiba- tiba dalam setiap langkah kita terjadi gesekan pro dan kontra yang luar biasa, antara nurani pertobatan atau nafsu keangkuhan yang selalu dikompori sang raja neraka,iblis. Ya! Iblis memang tidak pernah rela seorang anak manusia yang sudah menjadi sahabat karibnya harus berubah kearah yang lebih baik, yang dia inginkan adalah kita tetap sama dari dulu sampai nanti menjadi teman sejatinya tak pernah mempedulikan hati nurani yang cenderung pada fitrah kebaikan. Siapapun kita, apapun pekerjaan kita, bagaimana pun cara kita diuji dengan masalah, diuji dengan perasaan cinta, maka disanalah si iblis mendampingi kita hingga semakin bertambah usia pertumbuhan kita bertambah pula kekuatannya dikerahkan untuk mengantarkan kita pada jurang kenistaan dan kehancuran bahkan sebelum kita menemui ajal, kehancuran hidup didunia sudah akan kita dapatkan sementara dia hanya tertawa dan terus menekan nafsu kita untuk tetap tidak menyerah menjadi pelaku dosa yang semakin menumpuk! Itulah ambisi iblis! Walau kita belum mampu melihatnya secara kasat mata, namun nafsu serakah kita, kesombongan kita, keangkuhan kita sudah menunjukkan sifat- sifat iblis itu dan boleh jadi kitalah yang telah menggantikan posisi iblis dimata manusia dan Tuhan sebelum dia menampakkan dirinya kelak. Na’udzubillah!

Masa lalu yang menjatuhkan kita kini, adalah bagian dari kemenangan iblis dan kemudian menjadikan kita menyesalinya teramat sangat namun tak mampu mengubahnya kembali. Kita menjadi putus asa karenanya, siang malam selalu terbayang akan keburukan- keburukan lalu kita, setiap akan berbuat baik merasa diri tak pantas dan merasa dijauhi nasib baik. Yang ada adalah keyakinan bahwa ‘karma’ akan menelan kehidupan kita dimasa mendatang, nasib sial yang akan menimpa kita karena mempunyai masa lalu yang kelam. Maka sudah bisa dipastikan, sebelum semua kesialan itu terjadi kita bisa saja mengakhiri hidup kita karena sebuah keputus asaan, rasa stress, depresi yang tak ada obatnya kecuali jika mampu menjaga kekuatan spiritual kita.

Ada banyak alasan mengapa kita harus berdamai dengan masa lalu, terutama masa lalu yang telah merusak kehidupan kita zhahir maupun bathin, merusak hati kita bahkan merusak keimana kita. Salah satu yang harus kita perhatikan adalah tujuan kita hidup, dari sejak lahir hingga dewasa, mau dibawa kemana setelah ini? Mau diapakan raga ini? Jiwa ini? Apakah kita punya harapan kedepan atau hanya ingin tetap seperti ini? Hanya kita yang punya pilihannya, mau lebih baik atau lebih buruk? Silakan memilih. Setiap kitab dalam agama masing- masing kita menyuruh untuk tidak putus asa setelah memutuskan melangkah menjauh dari hal yang buruk, meninggalkan pengalaman buruk memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, seringkali mimpi kelam itu muncul bahkan setelah beberapa tahun kemudian. Namun, bila kita berpegangan teguh pada keyakinan yang kuat tentang adanya kebaikan setelah keburukan, kemudahan setelah kesulitan maka masa lalu sehitam apapun takkan menggoyahkan hati kita dan takkan mampu meruntuhkan semangat juang kita meraih impian besar dimasa depan. Berusahalah dan berdo’a, jangan pernah putus asa…
Siapkah kita berdamai dengan masa lalu ?

 

 

Isi Kepala…….

Image

Senja keabadian…

 

Tak kira apa yang kudapat setelah penantian itu

harus berakhir dengan pecahnya segala rasa

yang menjadi berkeping- keping dan kemudian hancur

berhamburan menghembus pada awan kegelisahan,

butiran- butiran halusnya mengendap pada langit senja.

 

Itu mungkin sebuah fatamorgana

yang selama ini membutakanku sehingga mataku

tak mau  berpaling arah kemana angin menuju,

aku tetap tak bergeming seakan kedua pijakanku

menyatu dengan bumi

menembus akar keabadian.

Renungan Teu Puguh

Selesai membaca koran pada hari kamis/29 November/2012 kemarin, aku diam dan menarik nafas kemudian alam pikiran mulai berceloteh sendiri dengan bibir terkatup rapat tanpa mau bersuara sama sekali. Hehehe……bukannya saya bisu saudara- saudara!

Apa yang saya baca sehingga membuat pikiran saya jadi lumayan riweuh…? Ah sebenarnya hanya wacana politik sich, tapi yang bikin gregetnya itu karena lagi- lagi sampai membawa agama ( lebih tepatnya mazhab tertentu siiich ).

Terkait pernyataan Sutan Bhatoegana yang mengatakan bahwa Gus Dur dilengserkan karena kasus korupsi ( kurang lebih rangkumannya begitu ) ternyata menuai reaksi yang berlebihan khususnya dari warga NU. Alasannya mereka merasa Sutan telah menghina Gus Dur dan warga NU ( warga NU ??? ) sehingga beberapa oknum warga NU tersebut ramai- ramai melakukan aksi demo dan meminta Sutan meminta maaf kepada keluarga Gus Dur dan warga NU….(lagi- lagi . Bahkan saya tidak mengerti, letak menghina NU-nya? hanya menyebutkan tokoh NU….dan bukan menghina mazhab NU. Kok terlalu reaktif begitu ya..?

Ya, mungkin Sutan salah bicara seperti itu dan reaksi yang berlebihan seperti itu juga salah, tak usahlah bawa- bawa warga NU, karena saya yakin hal ini hanya bersifat politis tidak ada unsur ideologi agama yang dihina. Jika sikap yang berlebihan itu timbul dan menimbulkan masalah baru yang akhirnya nama mazhab NU yang bakal dipandang buruk oleh orang lain….bahkan oleh agama lain. Bukan masalah harga diri atau apa, saya kira itu urusan personal…..jika memang harus minta maaf ke keluarga Gus Dur ya sudah selesai. Jangan membawa- bawa bendera mazhab untuk kepentingan yang lain, saya tidak percaya kalau dibalik semua itu tidak ada unsur politiknya. Saya warga NU, tapi saya merasa pernyataan itu bukan suatu penghinaan terhadap NU, masih wajar- wajar aja para politisi beradu hujatan, tuduhan, atau hinaan. Salah juga sich pak Sutan, kenapa pula orang yang sudah meninggal dibawa- bawa dalam urusan duniawi. Biarkan saja orang yang sudah tiada tenang dialam sana….bersama dengan amalan- amalannya sewaktu didunia. Dan kepada para fans Gus Dur, janganlah juga membawa- bawa nama warga NU, karena tidak semua warga NU menjadi para pengkultus seseorang yang sangat mempunyai berbagai keterbatasan. Gus Dur itu bukan Tuhan NU, beliau hanya manusia biasa yang tak luput dari dosa dan tidak ada pengkultusan bagi dirinya sekalipun itu adalah Nabi!

Jadi, marilah kita lebih arif lagi dalam menyikapi berbagai masalah di Indonesia ini. Kita sudah terlalu banyak hal yang mengerikan yang selalu memecah belah umat Islam….sampai kapan kita akan menjadi orang yang mudah terprovokasi dengan hal- hal yang tidak seharusnya menjadi maslaah besar dan menjalar kemana- mana hingga pada persoalan golongan sebuah keyakinan?!

Allah telah berfirman yang sangat mutlak, ” Sesungguhnya orang- orang Mukmin itu adalah bersaudara…………” dari golongan manapun, partai manapun, ras apapaun dan kelompok apapun selama mereka masih meyakini Allah itu satu.

Semoga ucapan saya tidak menyinggung siapapun.

wallohu a’lam.

From Asma Nadia Milist

TRAGEDI  TUGU TANI PERINGATAN DARI ALLOH SWT

Disaat Menteri Dalam Negeri, sibuk untuk mengharamkan perda-perda miras, disaat Ketua HAM menganggap bahwa mengkonsumsi minuman keras sebagai hak pribadi sehingga melarangnya merupakan pelanggaran terhadap HAM, maka mata kita akhirnya dibukakan dengan adanya peristiwa kecelakaan di Tugu Tani hari minggu kemarin. Peristiwa naas itu telah menewaskan sembilan orang dan tiga orang terluka.  Afriani Susanti, sosok yang telah menjadi penyebab tragedi tersebut ternyata terbukti telah mengkonsumsi minuman keras dan narkoba beberapa jam sebelum peristiwa itu terjadi.

Hal yang lebih menjengkelkan lagi adalah ketika kita melihat tingkah laku yang ditunjukkan oleh Afriani yang sama sekali tidak merasa bersalah atau berdosa karena telah menghilangkan sekian banyak nyawa.

Betapa pengaruh miras dan narkoba selain terbukti merugikan orang lain ternyata juga menjadikan manusia menjadi antisosial dan tidak perduli dengan lingkungannya. Peristiwa tugu tani adalah cara Allah SWT mengingatkan kepada kita bahwa mengkonsumsi miras dan narkoba ternyata tidak sekedar menyangkut urusan pribadi akan tetapi sangat berhubungan dengan kehidupan sosial di sekitarnya. Semoga peristiwa ini mampu mambukakan mata dan hati kita dalam mensikapi keberadaan minuman keras dan narkoba di negeri ini. Termasuk bapak menteri dan ketua HAM. AMIN.

Kisah Sepotong Padaku

Sepotong cinta untuk hidup

sepotong kebahagiaan untuk hidup…

Sepotong asa untuk menjadikan harapan

dan sepotong- sepotong

untuk menjadikan semua ini hidup

adakah mungkin?

sepotong roti saja tidak cukup untuk mengenyangkan perut

tapi amat suka cita bagi yang hanya inginkan sepotong

sepotong- sepotong…..

sepotong itu cukup???

pemikiran sepotong bagi yang qona’ah…lalu bagaimana???

kadang yang sepotong itu…..

bisa lebih cukup dari susu sebelanga!

Memoar bubat, 15-04-10
sepotong rindu untuk kamu yang terpotong harapanmu

Sisa Yang Harus Berarti

Ada rasa senang ketika mendapatkan beberapa ucapan selamat hari ultah dari beberapa teman, kerabat dan saudara.

Ada rasa was was juga ketika mengetahui kalau aku ternyata sudah berusia 26 tahun!

Nah, ada rasa cemas saat aku harus menghadapi kenyataan bahwa usiaku tak mungkin bisa kembali muda, tetapi aku belum mampu menghasilkan yang terbaik dari apa yang aku perbuat selama ini. Berbuat baik pada orang lain, orang- orang disekitarku, orang- orang yang aku sayangi…..

Semakin terpikirkan juga betapa berat mungkin nanti tantangan hidup yang akan aku jalani, entah ujian yang bagaimana kedepannya yang sudah siap menanti kehadiranku dimasa mendatang. Yang jelas persiapan -persiapan itu harus segera di pikirkan dari sekarang.

Semangat! Berpikir keras dan berusaha sebaik mungkin……jika harus jalan panjang itu ditempuh dengan kaki berdarah-darah aku harus siap! Ingatlah, semua ini hanyalah adegan-adegan yang akan berakhir sesuai skenarioNya yang azali……

 

Bismillah……

Sambutan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Dalam Peringatan Hari Guru Nasional 2011

Sambutan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Dalam Peringatan Hari Guru Nasional 2011.

Previous Older Entries