Sekolah Hidup Susah
14 Apr 2010 Leave a Comment
in Hikmah
Mendapat email dari seorang kawan yang mungkin bisa bermanfaat.
Sekolah Hidup Susah
Untuk menjadi kaya, semua orang bisa instan melakoni. Namun, tidak siapa
saja siap menjadi orang susah.
Orang miskin baru kian banyak. Penganggur baru menambah bengkak angka
kemiskinan. Bisa jadi, itu sebabnya, selain angka bunuh diri tinggi, tiga
dari sepuluh orang Indonesia tercatat terganggu jiwanya.
Tidak siap hidup susah berisiko sakit jiwa. Ada cara sederhana menekan
risiko sakit jiwa. Sejak kecil anak dibuat tahan banting.
Ketahanan jiwa anak harus dibangun. Untuk itu, jiwa butuh “imunisasi”.
Menerima kenyataan
Sejak kecil anak diajar lebih membumi. Yang gagal kaya rela menerima
kenyataan. Yang belum pernah hidup susah diajar prihatin sedari kecil.
Kendati kecukupan, tidak semua yang anak minta perlu diberi.
Anak dilatih merasakan kegagalan.
Tugas orangtua dan guru mengajak anak berempati pada kesusahan orang lain.
Hidup tak luput dari berbagai stresor. Tak semua stresor jelek.
Supaya jiwa tahan banting, stresor dibutuhkan. Anak perlu mengalami seperti
apa tekanan hidup, konflik, kegagalan, rasa kecewa, dan krisis dalam hidup.
Seperti vaksin, biasakan anak memikul aneka stresor yang bikin jiwanya kebal
seandainya kelak hidupnya susah.
Tanpa dilatih hidup susah, anak yang terbiasa hidup berkecukupan tak tahan
banting. Lebih banyak orang sukses lahir bukan dari keluarga kecukupan.
Hidup prihatin membuat jiwa tegar bertahan melawan kesusahan. Hidup susah
membangun mimpi ingin lepas dari rasa kapok menjadi orang susah. Demi
mengubah mimpi jadi kenyataan, spirit kerja keras pun dipecut.
Einstein percaya, untuk sukses diperlukan lima persen otak, selebihnya
keringat (perspirasi) . Spirit kerja keras menjadi milik orang yang tak
pernah puas pada prestasi yang diraih. Seperti bangsa Troya dulu,
pembangunan Jepang dan Korea lebih pesat ketimbang bangsa sepantar karena
memiliki “virus” n-Ach (need-for-Achieveme nt) yang tinggi.
“Virus” n-Ach bisa ditularkan kepada anak lewat asuhan dan pendidikan.
Bacaan memuat nilai kehidupan, termasuk mendongeng, pendidikan berdisiplin,
dan keteladanan orang lebih tua. Itu modul- modul kehidupan agar anak tahu
juga hidup susah.
Jiwa getas
Kebiasaan meloloh anak dengan kelimpahruahan tidak melatih anak merasakan
gagal, kecewa, rasa ditekan, rasa konflik, atau rasa krisis. Tanpa tempaan
stresor, jiwa getas. Jika jiwa getas, orang rentan stres. Bila tak terlatih
hidup berdamai dengan stres, hidup berisiko gagal andai harus jatuh miskin.
Tak ada sekolah yang mengajarkan menjadi orang miskin. Tak pula ada kursus
memampukan anak terbiasa hidup berdamai dengan stres. Yang bisa kita lakukan
adalah mengasuh dan mendidik anak tahan banting.
Mandat itu harus ada di pundak setiap orangtua.
Tidak semua anak kecukupan pernah mengalami stresor. Dalam pendidikan
modern, anak sengaja dihadapkan pada stresor buatan. Ada pelatihan
diam-diam, dalam suasana berkemah atau outbound diciptakan situasi krisis.
Mobil sengaja dibuat mogok di tengah hutan pada malam hari, atau kehabisan
makanan selagi camping.
Dihadang stresor buatan, anak dilatih bagaimana bereaksi, beradaptasi, agar
mampu lolos dari rasa panik, rasa takut, rasa tidak enak berada dalam
situasi darurat. Ini bagian dari upaya membuat kebal jiwa anak. Bila jiwa
tak tahan banting, sontekan stres kecil mungkin diatasi dengan bunuh diri.
Kini semakin banyak kasus bunuh diri hanya karena alasan enteng. Gara-gara
ditinggal pacar, tidak naik kelas, sebab jiwa tak terlatih memikulnya. Maka
jiwa perlu digembleng.
Kerja keras
Menggembleng berarti menunjukkan rasa arah hidup prihatin, selain
berdisiplin. Hidup berdisiplin berarti menjunjung tinggi kebenaran, memikul
tanggung jawab, kerja keras, serta mampu menunda kepuasan.
Menunda kepuasan bentuk keunggulan sebuah bangsa. Bangsa unggul memiliki
“virus” n-Ach tinggi. Anak yang diasuh dan dididik dengan nilai-nilai
“virus” n-Ach, menyimpan bekal sukses. Itu kelihatan, misalnya, dari cara
makan. Anak dengan n-Ach tinggi menyisihkan yang enak dimakan belakangan,
yang tidak enak dimakan dulu. Tugas berat dikerjakan dulu, yang enteng
belakangan. Bersakit-sakit dulu bersenang-senang kemudian menjadi kredo
bangsa yang sukses.
Agar tahu hidup susah, anak diajak memahami bahasa hidup bukan uang semata.
Tak semua semerbak kehidupan bisa dipetik dengan uang.
Kebahagiaan tertinggi hanya terpetik setelah orang mampu merasa bersyukur
meski cuma menjadi orang biasa (mengutip Gede Prama).
Sukses hidup sejati tak mungkin terpetik instan. Jiwa potong kompas, ingin
lekas kaya, tumbuh dari budaya instan. Bukan rasa arah yang benar saja yang
perlu ditanamkan saat membesarkan anak, tetapi harus benar pula menempuhnya
di mata Tuhan.
Anak disiapkan menjadi insan linuwih (terinternalisasi penuh
superegonya) dengan cara mengempiskan egonya sekecil mungkin.
Rekayasa sosial (social engineering) diperlukan dengan menyuntikkan “vaksin”
hidup prihatin. Perlu pula penyubur superego agar kendati hidup susah masih
merasa bahagia.
Hanya bila bibit linuwih dipupuk sejak kecil, sekiranya hidup susah tak
tergoda memilih serong. Kendati tak banyak harta, uang, atau kuasa, ke arah
mana pun hidup memandang, merasa tetap “kaya”. Mampu legawa, bersyukur, dan
merasa berbahagia sudah pula meraih Oscar kehidupan, kendati mungkin hanya
menjadi orang biasa.
Sumber: Sekolah Hidup Susah oleh Handrawan Nadesul,Dokter, Penulis
Buku,Pengasuh Rubrik Kesehatan
Recent Comments