Dua sayap, satu kepala

Pernahkah anda melihat seekor burung yang sedang terbang ? Nah begitulah keadaan seorang hamba yang sedang menuju Allah Subhanahu wa ta’ala bagaikan burung yang sedang terbang. Dia membutuhkan bekal tiga hal. Dua sayap yang harus ia kepakkan dan kepala sebagai pengendali perjalanan tersebut. Jika amal ibadah yang dilakukan seorang abdi kepada ilahnya merupakan sebuah perjalanan, maka waktu berhentinya ketika amalannya sudah memasuki sebuah peti yang bernama “Liang Kubur”. Untuk mengusahakan perjalanan yang tak ia ketahui kapan berakhirnya itu, usaha maksimalah yang harus ia lakukan. Perjalanan tak akan sukses jika salah satu atau kedua sayap terluka atau patah. Apalagi jika kepala terputus, perjalanan hamba pun terputus tak berhasil sampai tujuan. Sayap yang pertama adalah Khauf, sedangkan yang kedua dikenal dengan nama Raja’. Adapun kepala dari perjalanan ini disebut Mahabbah. Tiga hal inilah yang ditetapkan sebagai pilar – pilar penghambaan. Semisal ibadah adalah sebuah bangunan, maka ia tidak akan berdiri kokoh jika salah satu, salah dua atau ketiga – tiganya tidak ditegakkan dalam peribadatan. Khauf, takut kepada Allah Khauf diartikan sebagai rasa takut, khauf sebenarnya adalah manifestasi dari hati yang gundah karena adanya kekhawatiran akan terjadinya sesuatu. Baik sesuatu yang membahayakan, menghancurkan atau menyakitkan di masa mendatang. Takut terhadap ancaman dan siksa Allah Subhanahu wa ta’ala, takut jika amal ibadahnya masih jauh dari kesempurnaan, atau khawatir jika Allah Subhanahu wa ta’ala tidak menerima amal ibadahnya. Khauf yang seperti inilah yang mampu mengendalikan diri dari setiap keinginan berbuat maksiat dan menambatkannya pada perbuatan taat. “Karena itu, janganlah kamu takut kepada mereka tetapi takutlah kepada–Ku, jika kamu benar – benar orang yang beriman.” ( Ali Imran : 175 ) Takut kepada Allah Subhanahu wa ta’ala bisa terpuji, namun adakalanya bisa tidak terpuji. Takut yang terpuji adalah rasa takut yang membawa seorang hamba bias terhindar dari maksiat, mengerjakan yang wajib dan meninggalkan yang haram. Sedangkan takut yang tidak terpuji adalah jika rasa takut itu menimbulkan sikap putus asa terhadap rahmat Allah Subhanahu wa ta’ala. Modal dari rasa takut yang terpuji adalah ma’rifat terhadap Allah Subhanahu wa ta’ala, tidak ada selain hal ini. Semakin tinggi tingkat pengenalannya terhadap Allah Subhanahu wa ta’ala, sudah seharusnya semakin tinggi pula rasa takutnya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. ”Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba – hamba-Nya, hanyalah para ulama.” ( Fathir : 28 ) Sia – sialah orang yang mempunyai ilmu ; gelar pendidikan syar’inya sederet, hafalan haditsnya banyak namun rasa takutnya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala hanya secuil. Sesungguhnya ilmu itu bukanlah banyaknya riwayat, tapi ilmu itu adalah banyaknya rasa takut. Raja’, mengharap rahmat Allah Raja’ adalah sikap mengharap rahmat Allah Subhanahu wa ta’ala. Ia merupakan keinginan seseorang terhadap sesuatu yang mungkin diperolehnya dalam waktu dekat atau jauh tapi diposisikan sebagai sesuatu yang dekat. Hamba yang berharap akan rahmat dan ampunan Allah Subhanahu wa ta’ala adalah semisal seorang petani. Setiap petani akan memilih bibit unggul, menyemainya dan memeliharanya dengan penuh perhatian apabila sudah ditanam. Dalam rentang waktu antara masa tanam dan masa panen, ia berharap tanaman tersebut akan menghasilkan panenan yang banyak. Lahan seorang hamba Allah adalah hatinya. Maka ia menyemai benih – benih keimanan diatasnya. Ia rawat dan pelihara tanaman tersebut dengan sarana dan prasarana berupa amal shaleh. Selanjutnya ia sabar dalam menanti hari panen serta mengharap hasil yang banyak di hari perjumpaan yang besar. Penantian seperti inilah yang dinamakan raja’ yang sebenarnya. “Barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” ( Al Kahfi : 110 ) Maka orang – orang yang telah beriman, berhijrah dan berjihad dijalan-Nya, merekalah orang – orang yang berhak mengharapkan rahmat Allah Subhanahu wa ta’ala. Bukannya orang – orang yang lemah hatinya dan berpangku tangan saja, mereka enggan memperjuangkan dan memurnikan agama Allah Subhanahu wa ta’ala yaitu islam. “Sesungguhnya orang – orang yang beriman, orang – orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” ( Al Baqarah : 128 ) Mahabbah, cinta kepada Allah Inilah sang kepala, yaitu mahabbah atau cinta kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Mahabbah adalah tingkatan yang paling tinggi, paling agung dan bermanfaat. Ia-lah yang mengendalikan kedua sayap. Jika cinta atau mahabbah tidak ada maka tak akan berguna khauf dan raja’. Hakikat ibadah adalah totalitas cinta yang disertai rasa tunduk ( Total Surrender ) dan merendahkan diri dihadapan Sang Khalik atau Sang Pencipta. “Dan diantara manusia, ada segolongan yang menyembah tandingan – tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang – orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.” ( Al Baqarah : 165 ). Sudah seharusnya seorang mukmin sangat mencintai Allah Subhanahu wa ta’ala. Tapi harus disertai bukti kecintaan. Pengakuan semata tak akan berguna. Orang kafir dan munafik pun bisa mengaku mencintai Allah…kalau sekedar pengakuan “Katakanlah : “jika kamu ( benar – benar ) mencintai Allah, ikutilah aku ( Rasulullah ), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa – dosamu.” ( Ali Imran : 31 ) bukti dan tanda cinta kepada Allah Subhanahu wa ta’ala adalah dibuktikan dengan I’tiba atau mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Siapa yang tidak mengikutinya, maka ia pun tidak akan memetik buah cinta kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Na’udzu Billah ! Meneladani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam akan membuat seseorang berjalan diatas jalan yang lurus dan tengah, tidak berlebih – lebihan, tidak pula meremehkan. Ia tidak akan berlebih – lebihan didalam khauf sehingga meremehkan raja’, sebaliknya ia tidak berlebih – lebihan dalam raja’ sehingga meremehkan khauf. Inilah pengendalian, yaitu berjalan di jalan yang pertengahan. Keadaan hamba yang paling sempurna adalah yang beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dengan pilar – pilar ini. Ia menyelaraskan harapan dan rasa takut, serta memperbanyak rasa cinta. Cinta ibarat kendaraan, harapan ibarat dorongan sedangkan rasa takut ibarat pengemudinya dan Allah Subhanahu wa ta’ala – lah yang menghantarkannya ke tujuan dengan karunia-Nya. Subhanallah ! Maka terbanglah menuju Allah wahai saudaraku… terbanglah dengan sayap takut kepada-Nya dan sayap mengharap rahmat-Nya, serta kendalikan mereka dengan mencintai-Nya. Niscaya perjalanan akan sampai ke tujuan. Hasbunallah wa ni’mal wakiil *(Alwi Said)

Advertisement

3 Comments (+add yours?)

  1. sikupu
    Mar 04, 2010 @ 09:55:16

    assalamualaikum
    ukh, kumaha damang? :)

    Reply

  2. uul
    May 31, 2011 @ 16:26:49

    kalau ada waktu mampir dulu DISINIsobat

    Reply

  3. cityrohana
    Dec 26, 2011 @ 23:35:16

    alhamdulillah baik uul……..ini beneran uul padang kan?

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.